Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 20 Mei 2013

RESENSI BUKU





Pendidikan  Pesantren Berwawasan Lingkungan  (kasus Pondok Pesantren An- Nuqayah Guluk- Guluk Sumenep, Madura)


            Biografi Buku
            Judul              : Pendidikan  Pesantren Berwawasan Lingkungan
            Penulis             : DR. M. Bahri Ghazali, MA
            Penerbit           : Pedoman Ilmu Jaya
Kota Penerbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2001
Tebal              : 127
Resentator      : Latifatus Sifa
Pondok Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam mengalami perkembangan bentuk sesuai perkembangan zaman, terutama sekali adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan bentuk pesantren bukan berarti sebagai pondok pesantren yang telah hilang kekhasannya. Dalam hal ini pondok pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk masyarakat.
Dimensi kegiatan sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pesantren itu bermuara pada satu sasaran utama yakni perubahan, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karena itu, pondok pesantren dapat juga dikatakan sebagai agen perubahan artinya pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang mampu melakukan perubahan terhadap masyarakat. Perubahan itu berwujud peningkatan pemahaman (persepsi) terhadap agama, ilmu dan teknologi. Juga dalam bentuk pengalaman atau praktek yang cenderung membekali masyarakat kearah kemampuan siap pakai. Kemampuan siap pakai yang dimaksud adalah sumber daya manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang dimiliki masyarakat cenderung mengatasi persoalannya dengan potensinya sendiri.
Ada beberapa ciri yang bersifat umum dimiliki oleh pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus sebagai lembaga social yang secara informal itu terlibat dalam pengembangan masyarakat pada umumnya. Zamarkhasyari Dhofier mengajukan lima unsure pondok pesantren meliputi : pondok, masjid, pengajaran kitab- kitab klasik (menggunakan metode Sorogan, wetonan dan Bandongan), santri dan kyai. Di dalam perkembangannya pondok pesantren tidaklah semata – mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan ketiga pengajaran diatas, melainkan dilakukan suatu inovasi dalam pengembangan sistem.
Disamping pola tradisional yang termasuk ciri pondok- pondok salafiyah, maka gerakan khalafiyah telah memasuki derap perkembangan ponpes yang menerapkan sistem klasikal (mendirikan sekolah-sekolah), sistem kursus- kursus (pengembangan ketrampilan seperti ketrampilan berbahasa inggris, kursus menjahit,mengetik computer dan sablon), sistem pelatihan (menumbuhkan kemampuan praktis seperti :pelatihan pertukangan, perkebunan, perikanan, manajemen koperasi dan lain- lain). Terdapat beberapa fungsi Pondok Pesantren diantaranya : (1) Pesantren sebagai Lembaga pendidikan, (2)Pondok pesantren sebagai Lembaga Dakwah, (3) Pondok Pesantren sebagai lembaga sosial.
Di dalam Buku Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan  (Studi kasus Pondok Pesantren An- Nuqayah Guluk- Guluk Sumenep, Madura), dijelaskan bahwa ponpes yang didirikan oleh seorang musafir bernama Kyai Haji Mohammad Syarqowi pada tahun 1887, awalnya hanyalah salah satu dari sekian ponpes yang ada di pulau Madura, pada periode rintisan setelah Pak Kyai wafat digantikan oleh putra sulungnya Kyai Bukhari,tidak ada kemajuan atau perubahan yang berarti, pada masa ini hampir sama saat tonggak kepemimpinan di pegang oleh Pak Kyai. Barulah pada fase berikutnya, yaitu fase pengembangan yang dipimpin oleh Kyai Muhammad Ilyas dan Kyai Abdullah Syajjad, dua orang ini merupakan dua kakak ber adik dari istri kedua Kyai Syarqowi yaitu Nyai Maria, dilanjut Kyai Amir Ilyas dan Kyai Hasan Bisri. Secara garis besar, terdapat banyak perubahan yang terjadi pada fase ini, terutama dalam bidang kelembagaan yaitu mendirikan lagi pondok pesantren yang merupakan perluasan secara fisik Ponpes An- Nuqayah. Dalam bidang kemasyarakatan pun sama halnya, terutama menyangkut masalah keagamaan masyarakat di sekitar pondok pesantren.  
Terobosan yang dilakukan adalah dengan membentuk kelompok- kelompok pengajian antara lain majelis ta’lim dan Yasinan, tetapi, tidak hanya dibatasi pada bidang keagamaan saja, kepekaan terhadap masalah sosial yang meliputi persoalan ekonomi, budaya, dan terutama sekali masalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang membawa akses melemahnya tata kehidupan masyarakat sekitar pesantren An- Nuqayah. Contoh, dalam masalah lingungan hidup terutama air dijelaskan dalam pengajian atau majelis ta’lim tentang pandangan para fuqoha serta bagaimana memanfaatkan air dengan sebaik- baiknya.  
Dalam bidang pendidikan, pada tahun 1935, masuknya Kyai Khazin Ilyas sebagai salah satu pengasuh pondok, membawa pengaruh besar, didalam madrasah tidak hanya diajarkan ilmu agama, melainkan dimasukkan juga ilmu umum seperti bahasa Indonesia, berhitung dan Ilmu Bumi. Seiring berjalannya waktu,  semula hanya Madrasah Ibtidaiyah dan diniyyah, maka pada periode kepemimpinan Kyai Amir Ilyas dan Kyai Hasan Bisri ditingkatkan sampai Madrasah Tsanawiyah bahkan Aliyah. Didirikan pula STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) dan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS).
Dalam menjadikan Pondok Pesantren An- Nuqayah sebagai salah satu ponpes yang berwawasan lingkungan berawal dari persepsi mereka sendiri tentang apa itu lingkungan hidup, bahwa lingkungan itu adalah merupakan amanat dari Allah kepada seluruh manusia yang memiliki kedudukan sebagai khalifah (khalifatan fil ardhi). Dari sinilah muncul kepedulian dari santri maupun pengurus ponpes lainnya terutama Kyai. Pengembangan lingkungan hidup versi Pondok Pesantren An- Nuqayah ditinjau dari tipologi ilmu lingkungan adalah bersifat totalitas, sebab seluruh tipe lingkungan hidup digarap sekalipun dalam pengertian garis besar.
 Yang paling esensi dari kegiatan itu adalah pembinaan manusiaanya agar tumbuh kesadarannya tentang lingkungan hidup. Pola pengembangannya dengan jalan melibatkan masyarakat secara lamngsung ke dalam seluruh kegiatan pengajian, pendidikan dan pelatihan. Langkah- langkah yang dilakukan dalam pengembangan masyarakat pada umumnya dan lingkungan hidup khususnya adalah dengan mengikuti pelatihan, Musyawarah dengan para Kyai senior,  dan mendirikan Biro Pengembangan Masyarakat (BPM). Pengembangan Lingkungan Hidup terhadap masyarakat guluk- guluk ditinjau dari aspek tipologi lingkungan hidup dapat diklasifikasikan Jenis dan bentuk  pengembangan hidup diarahkan pada (1). Lingkunagn fisik, berupa penggarapan masalah air yang merupakan kasus yang harus ditangani, tersedianya MCK yang masih terbatas membuat warga berebut apabila akan menggunakannya. (2). Lingkungan Hayati, dengan melakukan penghijauan. (3). Lingkunagn Sosial Budaya (Lingungan Masyarakat) denagn mengadakan Pelatihan Pengembangan Teknologi Tepat Guna, Persusilaan Tempat Mandi, Mengadakan Simpan Pinjan Berjamin, Usaha Bersama, Penanaman Modal Usaha.
Hasil konkrit yang dicapai adalah terbebasnya masyarakat dari penderitaan yang menimpa mereka seperti kekurangan air, tanah/ lahan yang kering dan tandus dan kebiasan- kebiasaan mandi campur pria dan wanita sera watak carok, begitu pula kegiatan rentenir dan pegadaian liar. Penyampaian gagasan pengembangan lingkungan itu dilaksanakan melalui melalui pengajian dalam lingkup charisma Kyai. Metode penyampaiannya adalah Tanya jawab dan ceramah dalma kegiatan pengajian, serta metode bek rembek yang merupakan kegiatan musyawarah yang dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan adanya kegiatan pengembangan lingkungan model an- Nuqayah itu, secara spontan masyarakat menyadari keberadaannya sendiri dan potensi lingkungannya, yang dicerminkan dalam sikap positif dan kebiasaan baik dalam masyarakat yang merupakan kelanjutan kegiatan yang dirintis sebelumnya. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat adalah mendirikan koperasi desa, diciptakannya kesepakatan social keagamaan berupa peraturan yang tidak tertulis dan tetap menjalin hubungan timbal balik antara masyarakat dan pesantren an- Nuqayah.
Menurut pendapat saya, Ponpes an- Nuqayah dalam mengembangkan lingkungan disekitarnya, masih ada beberapa kendala yang harus dibenahi agar semakin terciptanya pola keteraturan, keseimbangan  dan kesadaran dalam masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup sekitarnya karena diantaranya belum adanya keselarasan pengembangan lingkungan hidup antara warga pondok dengan masyarakat, artinya belum terkonsep dengan baik dan matang.  Belum tercerminya pengembangan lingkungan hidup di dalam pondok baik dalam pengertian teoritik maupun praktek. Para santri belum dibelakali pemahaman teoritik tentang lingkungan.
Acara Maulid Nabi SAW
Taman Karya Madaris 3




Forum Silaturrahim Kunjungan Pondok Pesantren NTT

1 komentar:

  1. Playtech casino in India - DrmCD
    Playtech casino India. Get instant 보령 출장마사지 access to 안양 출장샵 Playtech's casino 광명 출장마사지 portfolio with instant deposits, 천안 출장샵 withdrawals, and more. Visit today 삼척 출장마사지 to join!🔄 #Playtech#Playtech#Casino #Playtech#BettingCash📺 Playtech#Playtech#Casino#Playtech#Best#Playtech#

    BalasHapus