Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 03 Mei 2013

ISLAM DI LEBANON


ISLAM DI LEBANON

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Geografi Islam
 Dosen Pengampu: Dr. H. Ruswan, M. A

Di susun oleh:
Ika Rizqi Lestari                   (103111116)
Ircham Mashadi                    (103111118)
Khafidhoh Luthfiana           (103111119)
Lailatul Hidayah                   (103111120)
Latifatus Syifa                       (103111121)
Mahfudz Sazali                     (103111122)
Malikhah                                (103111123)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
ISLAM DI LIBANON
I.     PENDAHULUAN
Republik Lebanon adalah sebuah negara di Timur Tengah, sepanjang Laut Tengah, dan berbatasan dengan Suriah di utara dan timur, dan Israel di selatan. Bendera Lebanon menampilkan sebuah pohon aras berwarna hijau dengan latar belakang putih, diapit oleh dua garis merah horisontal di atas dan bawahnya. Karena keanekaragamannya yang sektarian, Lebanon menganut sebuah sistem politik khusus, yang dikenal sebagai konfesionalisme. Hal ini dimaksudkan untuk membagi-bagi kekuasaan semerata mungkin di antara aliran-aliran agama yang berbeda-beda.
Dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, Lebanon memang banyak aliran keagamaan. Data resmi Lebanon mencatat, setidaknya ada empat aliran yang dianut oleh pemeluk Islam (Syiah, Suni, Druze, dan Alawi) dan enam aliran Kristen (Katolik Maronit, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani, Katolik Armenia, Koptik, dan Protestan). Disamping juga terdapat kelompok minoritas kecil Yahudi yang tinggal di Beirut pusat, Byblos, dan Bhamdoun.
Melihat latar belakang kondisi Lebanon yang demikian, baik dalam hal agama, politik, maupun budayanya maka makalah ini akan membahas lebih spesifik Islam di Lebanon. Terlepas dari pembahasan tersebut, pembahasan agama non muslim pun akan sedikit disinggung dalam makalah ini.

II.  RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Masuknya Islam di Libanon ?
B.     Bagaimana Latar Belakang Kehidupan Sosial dan Kebudayaan Islam di Libanon?
C.     Bagaimana Perubahan Politik Setelah Islam Datang di Libanon?
D.    Bagaimana Trend Islam di Libanon ?


III.   PEMBAHASAN
A.     Masuknya Islam di Libanon
Nama Lebanon ("Lubnān" dalam bahasa Arab standar; "Lebnan" atau "Lebnèn" dalam dialek setempat) berasal dari akar bahasa Semit "LBN", yang terkait dengan sejumlah makna yang berhubungan erat dalam berbagai bahasa, seperti misalya putih dan susu.Ini dianggap sebagai rujukan kepada Gunung Lebanon yang berpuncak salju. Sebuah negara di Timur Tengah, Lebanon berbatasan di barat dengan Laut Tengah (garis pantai sepanjang: 225 kilometer) dan di Timur dengan Depresi Suriah-Afrika. Lebanon berbatasan dengan Suriah sepanjang 375 km di Utara dan di Timur; dengan Israel sepanjang 79 km di selatan.[1]
Lebanon yang luasnya sekitar 10.400 kilometer persegi (4.015 mil persegi), terbagi dalam empat wilayah besar: dataran pantai (coastal plain), Lembah Bekaa (Biqa), Pegunungan Lebanon, dan Pegunungan Anti-Lebanon. Dataran pantai merupakan sebuah wilayah yang tidak begitu luas,namun cukup penting, karena disana terdapat kota-kota terbesar di Lebanon seperti Beirut, Tripoli, dan Sidon.[2]
Islam masuk ke Libanon dan Suriah pada tahun 632 M.di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.  Libanon menunjukkan bakatnya sebagai masyarakat Modern. Pada era ini bahasa arab menjadi bahasa resmi di Lebanon dan kehidupannya menjadi bagian dari peradaban Islam yang gemilang.
Hal ini berlangsung hingga tahun 1099 ketika para penganut Kristen dari Eropa (Crusader) menaklukkan Lebanon dan Negara-negara di sekitar kawasan tersebut. Selain memperluas ajaran Kristen,mereka juga berusaha membendung proses arabisasi yang mengalir secara damai dalam masa pemerintahan Islam. Sehingga para Crusader dari Eropa tersebut berusaha sekuat mungkin menanamkan pengaruh Kristen dengan cara menghidupkan budaya Barat di tengah tengah kehidupan Islam. Tetapi tahun 1187 Kesultanan Mamluk berhasil menggulingkan dinasti Crusader serta menguasai Lebanon dan suriah hingga tahun 1500.[3]

B.     Latar Belakang Kehidupan Social dan Kebudayaan Islam di Libanon
Jumlah penduduk yang tinggal di Lebanon sendiri diperkirakan 3.874.050 pada Juli 2006. Ada sekitar 16 juta orang keturunan Lebanon yang tersebar di seluruh dunia, yang terbanyak adalah di Brasil, Argentina, Australia, Kanada, Kolombia, Perancis, Britania Raya, Meksiko, Venezuela dan Amerika Serikat juga memiliki komunitas Lebanon yang besar.
Identitas politik individu di Libanon modern banyak ditentukan berdasarkan garis sekte. Bahkan, kesepakatan Tha’if 1989, yang menyusun kerangka acuan untuk mengakhirinperang saudara yang meletus sejak 1975, mempertahankan distribusi jabatan utama bagi kelompok-kelompok agama besar saja. Oleh karena itu, jabatan Presiden masih tetap berada ditangan Kristen Maronit, jabatan Perdana menteri tetap milik Muslim Sunni, dan juru bicara Parlemen berada pada Muslim Syi’ah[4].
Populasi Lebanon terdiri dari beragam grup etnik dan agama: Islam, Syi'ah, Druze, Katolik, Maronit, Ortodoks Yunani, Kristen Koptik, dan lainnya. Sensus resmi yang dilakukan pada tahun 1932, menandakan sensitivitas politik di Lebanon terhadap keseimbangan keagamaan. Diperkirakan bahwa dari 59% penduduk Lebanon adalah Islam dan 40%Kristen (umumnya Maronit, Gereja Ortodoks Antiokia, Apostolik Armenia, Katolik Yunani Melkit, Gereja Asiria di Timur, Katolik Khaldea dan minoritas Protestan. Ada 1 % kelompok minoritas kecil Yahudi yang tinggal di Beirut pusat, Byblos, dan Bhamdoun. Lebanon juga mempunyai sebuah komunitas kecil (kurang dari 1%) Kurdi (juga dikenal sebagai Mhallami atau Mardinli) yang umumnya bermigrasi dari Suriah timur laut dan Turki tenggara, diperkirakan jumlahnya antara 75.000 hingga 100.000 orang, yang termasuk dalam kelompok Sunni. Dalam tahun-tahun belakangan ini mereka memperoleh kewarganegaraan Lebanon sehingga menguntungkan kelompok Muslim dan Sunni khususnya. Selain itu, ada pula ribuan suku Beduin Arab di Bekaa dan di wilayah Wadi Khaled, yang kesemuanya tergolong Sunni, yang juga mendapatkan kewarganegaraan Lebanon. Ada sekitar 15 juta orang keturunan Lebanon, terutama Kristen, menyebar di seluruh dunia. Muslim Syiah, Druze dan Alawi tidak digolongkan sebagai Islam.
Masyarakat Lebanon menghargai kebebasan individu, tetapi ikatan kekeluargaan masih berperan penting. Masyarakat Lebanon dikenal pula dengan pola hidup modern, terbuka, dinamis dan konsumtif. Banyak masyarakat Lebanon berjuang untuk memperoleh pengaruh dan kekayaan sebagai simbol keberhasilan. Pola pergaulan masyarakat Lebanon lebih terbuka dibanding Negara Timur Tengah lainnya. Laki-laki dan perempuan berbaur secara leluasa serta perbandingan mereka berimbang dalam hal tingkat pendidikan.
Masyarakat Lebanon yang pluralistik merupakan keunikan tersendiri diantara negara Arab. Agama yang dianut mayoritas warga Lebanon menginduk pada dua agama besar yaitu Islam dan Kristen. Namun mereka terbagi dalam sekte yang beragam yang jarang ditemui di negara lain. Mereka misalnya tidak hanya terbatas meyakini Islam beraliran Sunni, tapi juga sekte Shiah, Druze dan Alawite. Demikian pula dengan Kristen, ada yang menganut Kristen Maronite, Katolik, Protestan, Orthodox, Anglican dan Armenian. Bahkan ada yang menganut agama Yahudi meskipun sebagian besar sudah berhijrah ke Israel. Hal ini membuat Lebanon sangat menarik untuk dipelajari secara mendalam karena mampu memberi contoh hidup bersama secara harmonis.

C.    Kondisi Politik Setelah Islam Datang di Libanon
Tata kehidupan politik negeri ini mengikuti agama-agama dan mazhab-mazhab yang ada disana. Presiden republik negeri ini bernasab pada kelompok al-Mauzunah (kelompok Nasrani). Perdana mentrinya adalah seorang muslim Sunni. Ketua parlemennya berasal dari kelompok Syiah. Sedangkan anggota-anggota kursi parlemen terbagi diantara kelompok-kelompok dan mazhab-mazhab tersebut.[5]
Tiga kelompok yang saat ini memerankan peranan yang paling penting: Syiah (tinggal di daerah perbatasan dengan palestina/Israel sekarang), Druze (tinggal di bagian selatan dan maronit dibagian utara yaitu jubayl,batrun dan baharik). Munculnya golongan maronit sebagai kelpmpok masyarakat paling dominan di libanon banyak dipengaruhi oleh masukny apasukan salib di prancis ke libanon pada permulaan abad ke 12. Berbeda dari golongan Maronit yang sudah mendiami Libanon sejak abad ke 7, golongan Syi’ah baru masuk ke Libanon pada abad kesebelas. Mereka yang pertama kali datang adalah umat Syi’ah sekte Fathimiah yang berasal dari Mesir, khususnya setelah dinasti Fathimiyah dikalahkan oleh Dinasti Ayyub yang berpaham Sunni di Mesir. Sebagian orang Syi’ah tersebut kemudian membentuk sekte tersendiri, yaitu Druze. Istilah Druze berasal dari pemimpin mereka, Muhammad Al-Darazi, salah seorang murid kholifah Al-Hakim dari Dinasti Fathimiyyah di Mesir.
Pada tahun 1289, pasukan Dinasti Mamluk masuk ke Lebanon dan berhasil merebut Tripoli serta daerah-daerah pantai lainnya. Dinasti mamluk berhasil menggantikan posisi Druze dan Syi’ah sebagai kelompok masyarakat Islam yang dominan di Lebanon. Ini berarti selama di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk (sampai awal abad keenam belas), masyarakat Islam Lebanon didominasi oleh mereka yang berpaham Sunni.
Pada tahun 1516, Dinasti Mamluk ditundukkan oleh pasukan Dinasti Ottoman (Turki Islam) yang menduduki Lebanon dan wilayah-wilayah Arab lainnya selama empat abad, yaitu sampai akhir perang dunia pertama (1918). Dengan dukungan penguasa Ottoman, sejak 1591 di Lebanon berdiri system keamiran (imarah atau emirate, semacam kerajaan) yang dipimpin oleh seorang amir (emir) dari golongan Druze.[6] 
Dominasi golongan Maronit dalam sistem politik Libanon sebagai hasil Pakta Nasional 1943 pada mulanya memang tampak diterima oleh semua golongan, namun pada kenyataannya penerimaan itu bersifat sementara atau bahkan terpaksa, mengingat Pakta 1943 disponsori oleh Prancis yang pada waktu itu berkuasa di Libanon. Golongan itu, khususnya Syi’ah dan Druze serta golongan ortodoks Yunani (komunitas Kristen terbesar kedua), merasa tidak senang dengan dominasai Maronit. Mereka menghendaki agar system politik Libanon tidak hanya terpaku pada Pakta 1943 yang didasarkan pada sensus 1932. Mereka menuntut adanya perubahan, antara lain dengan mengadakan sensus ulang, kecuali jika orang-orang Palestina dikeluarkan dari Libanon. Dalam pandangan golongan Maronit selama masih ada orang-orang Palestina di Libanon, suatu sensus ulang hanya akan menguntungkan golongan Islam. Mengingat kehadiran orang Palestina di Libanon dilindungi oleh PBB dan sejumlah Negara arab lain, maka pengusiran orang-orang Palestina sulit dilakukan. Berarti jalan ke arah diadakannya sensus ulang menemui jalan buntu.
Golongan Maronit mengajukan alternative lain untuk mengubah struktur politik Libanon. Mereka menawarkan perubahan perimbangan kekuatan antara Kristen dan Islam di Parlemen, dari 6:5 manjdi 5:5. Namun jabatan Presiden haus tetap berada ditangan golongan Maronit. Tawaran ini ditolak oleh golongan Islam. Golongan Islam menghndaki perubahan mendasar dalam system libanon, yaitu suatu system politik yang tidak lagi dikaitkan dengan komunitas keagamaan namun gagal diwujudkan karena ditolak oleh golongan Kristen. Munculnya polarisasi antara pihak yang ingin mempertahankan status quo (kristen) dan pihak yang menghendaki perubahan (Islam) telah mengubah konflik di Libanon yang semula bersifat laten menjadi suatu perang yang terbuka. Perang saudar di Libanon pertama kali pecah pada tahun 1958 waktu itu Presiden Camille Chmoun yang telah habis masa jabatannnya berusaha untuk kembali berkuasa. Dalam konstitusi di Libanon masa jabatan Presiden ditetapkan selama 6 tahun dan tidak dapat dipilih kembali. Chmaun mencoba mengubah konstitusi agar dapat memperpanjang masa jabatannya. Motivasi Chmoun ini didasari oleh kekhawatirannya akan semakin kuatnya pengaruh Nasserisme dikalangan golongan Islam Sunni. Namun upaya Chmoun tersebut mendapat tantangan keras dari pihak Islam akibatnya pecah perang saudara antara golongan Kristen dan Islam selama 6 bulan. Perang baru dapat diakhiri setelah adanya intervensi pasukan mariner Amerika Serikat yang mendarat di Beirut pada tanggal 15 juli 1958.[7]

D.    Trend kekinian Islam di Libanon
1. Tradisi Masyarakat
a.    Acara-acara yang diadakan oleh masyarakat Lebanon :
Untuk yang beragama Islam selain Ramadhan, Hari Raya Idul Adha merupakan acara keagamaan yang terbesar dimana biasanya ditandai dengan ornamen2 / dekorasi di segala pelosok. Selain itu bagi mereka yang pulang Haji diadakan sambutan khusus dengan pemasangan ornamen-ornamen di luar dan di dalam rumah sertai penggunaan petasan. Acara besar lainnya adalah Peringatan As Syura (10 Muharam) khususnya untuk komunitas Islam Syiah. Sedangkan untuk yang beragama Kristen, seperti biasa adalah Chistmas, Orthodox Armenian Christmas, St. Maron. Acara peringatan kemerdekaan diperingati setiap tanggal 22 Nopember, namun tidak disertai berbagai kegiatan sebagaimana layaknya 17 Agustusan (lomba-lomba dll). Acara besar tahunan bagi masyarakat luas yang biasa dilakukan oleh Pemerintah adalah kegiatan Marathon.
b.      Acara-acara yang diadakan oleh masyarakat Indonesia di Lebanon.
Mengingat jumlah populasi yang relatif sedikit, maka acara-acara yang diadakan lebih terfokus pada seluruh acara yang diadakan oleh KBRI kedutaan / KBRI, seperti peringatan hari-hari besar nasional maupun  keagamaan. Lomba-lomba 17 Agustusan, Halal Bi Halal, Peringatan Tahun Baru dan kegiatan rutin lainnya seperti Olahraga, Pengajian, Buka Puasa Bersama dan undangan-undangan yang sifatnya pribadi (syukuran, Ultah dll).
2. Kekhasan / kebiasaan khusus masyarakat di Lebanon.
a.    Coklat yang dihias merupakan symbol untuk acara-acara kekeluargaan seperti menjenguk orang yang melahirkan, orang sakit dan pulang Haji.
b.    Menyalakan petasan dan menembakkan senapan ke udara untuk perayaan menyambut pulang Haji, Pernikahan, Perayaan Kemenangan (Piala Dunia, setelah berperang), Kemenangan politik (Setelah pidato salah satu pemimpin Parta Politik).
c.    Mengendarai mobil secara “seenaknya” seperti jarang menggunakan lampu Sign, berhenti / parkir sembarangan. Selain di Down Town umumnya jarang  ditemukan lampu lalu lintas (hanya menggunakan polisi untuk menertibkan lalu lintas) namun umumnya kemacetan selalu dapat teratasi.
d.    Merokok / Argile dan meminum kopi Arab (baik pria maupun wanita).
e.    Penggunaan Asesoris dan pernak pernik serta berpakaian modis.
f.     Makanan : Olive, Lemon, Salad, Cheese, Daging, Kambing dan Roti Arab (Manaiskh).[8]

IV.   KESIMPULAN
Lebanon yang luasnya sekitar 10.400 kilometer persegi (4.015 mil persegi), terbagi dalam empat wilayah besar: dataran pantai (coastal plain), Lembah Bekaa (Biqa), Pegunungan Lebanon, dan Pegunungan Anti-Lebanon. Dataran pantai merupakan sebuah wilayah yang tidak begitu luas,namun cukup penting, karena disana terdapat kota-kota terbesar di Lebanon seperti Beirut, Tripoli, dan Sidon. Islam masuk ke Libanon dan Suriah pada tahun 632 M.di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. 
Jumlah penduduk yang tinggal di Lebanon sendiri diperkirakan 3.874.050 pada Juli 2006. Ada sekitar 16 juta orang keturunan Lebanon yang tersebar di seluruh dunia, yang terbanyak adalah di Brasil, Argentina, Australia, Kanada, Kolombia, Perancis, Britania Raya, Meksiko, Venezuela dan Amerika Serikat juga memiliki komunitas Lebanon yang besar. Populasi Lebanon terdiri dari beragam grup etnik dan agama: Islam, Syi'ah, Druze, Katolik, Maronit, Ortodoks Yunani, Kristen Koptik, dan lainnya.
Tata kehidupan politik negeri ini mengikuti agama-agama dan mazhab-mazhab yang ada disana. Presiden republik negeri ini bernasab pada kelompok al-Mauzunah (kelompok Nasrani). Perdana mentrinya adalah seorang muslim Sunni. Ketua parlemennya berasal dari kelompok Syiah. Sedangkan anggota-anggota kursi parlemen terbagi diantara kelompok-kelompok dan mazhab-mazhab tersebut.
Tren kekinian di Lebanon, Untuk yang beragama Islam selain Ramadhan, Hari Raya Idul Adha, Peringatan As Syura (10 Muharam), Sedangkan untuk yang beragama Kristen, seperti biasa adalah Chistmas, Orthodox Armenian Christmas, St. Maron. Acara-acara yang diadakan oleh masyarakat Indonesia di Lebanon, seperti peringatan hari-hari besar nasional maupun  keagamaan. Lomba-lomba 17 Agustusan, Halal Bi Halal, Peringatan Tahun Baru dan kegiatan rutin lainnya. Kekhasan / kebiasaan khusus masyarakat di Lebanon meliputi : Coklat yang dihias, Menyalakan petasan dan menembakkan senapan ke udara untuk perayaan, Mengendarai mobil secara “seenaknya”, Merokok / Argile dan meminum kopi Arab (baik pria maupun wanita), Penggunaan Asesoris dan pernak pernik serta berpakaian modis.

V.  PENUTUP
Demkianlah makalah yang kami susun, semoga dapat memberikan manfaat untuk pembaca dan pemakalah khususnya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunan makalah ini. Sehingga kami mohon kritik dan saran dari para pembaca yang dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi pemakalah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar, 2008.
Sihbudi, M. Riza, Islam, Dunia Arab, Iran, Bara Timur Tengah, Bandung: Mizan, 1991.
Thohir, Ajid,  Studi kawasan Dunia Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.



[2] M. Riza Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran, Bara Timur Tengah, (Bandung: Mizan, 1991), hlm. 24
[4]Ajid Thohir, Studi kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 133
[5] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar, 2008), hlm. 487
[6]M. Riza Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran, Bara Timur Tengah, hlm. 24-26
[7]M. Riza Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran, Bara Timur Tengah, hlm. 31-33

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar