Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 20 Mei 2013

Filsafat Islam Ibnu Maskawaih



IBNU MASKAWAIH
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : H. Darmu’in, M.Ag
 





Di Susun oleh:
Latifatus Sifa                          (103111121)
Mahfud Sazali                        (103111122)
Maria  Ulfa                             (103111123)
Maulida Khoirun N               (103111124)


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2012  



IBNU MASKAWAIH

      I.            PENDAHULUAN

Pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan akhlak dan manusia. Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibnu Maskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu Maskawaih bersifat menyeluruh, yakni mencakup kebahagiaan hidup manusia dalam arti yang seluas-luasnya.
Maka dalam makalah ini akan dijelaskan lebih rinci lagi apa dan bagaimana perkembangan pemikiran Ibnu Maskawaih beserta karya- karya fenomenal beliau.


   II.            RUMUSAN MASALAH
A.       Bagaimana biografi Ibnu Maskawaih
B.       Apa saja karya Ibnu Maskawaih
C.       Bagaimana pemikiran Filsafat Ibnu Maskawaih

III.            PEMBAHASAN
A.       Biografi Ibnu Maskawaih
            Tidak banyak diketahui orang tentang sejarah hidup ibn Maskawaih karena kelangkaan berita dan riwayat yang disebut oleh para penulis sejarahnya dalam kitab- kitab rujukan. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’kub ibn Maskawaih. Dilahirkan di kota Reyy pada tahun 330 H. dan meninggal di Ashfahan pada tahun 421 H /1030 M.
            Sebelum menganut islam, Ibn Maskawaih menganut agama majusi dan setelah menjadi orang islam, ia merupakan sarjana yang taat dan mendalam pengetahuan keislamannya. Diduga ia seorang penganut Syi’ah karena sebagian besar umurnya dihabiskan dalam mengabdi para menteri Syi’ah dalam zaman pemerintahan Bani Buwaih yang dimulai pada tahun 320 H. sampai dengan tahun 448H.
            Pada zaman raja ‘Adhudiddaulah, Ibu Maskawaih mendapat kepercayaan besar dari raja karena diangkat sebagai penjaga (khazin ) perpustakaannya yang besar, disamping sebagai penyimpan rahasianya dan utusannya ke pihak- pihak yang diperlukan.[1] Namun demikian, ada beberapa hal juga yang perlu dijelaskan  dari Ibnu Maskawaih yang belajar sejarah terutama  Tarikh al- Thabari kepada Abu Bakar ibnu Kamil Al- Qadhi dan belajar filsafat pada IBnu Al; Khummar, mufassir kenamaan karya- karya Aristoteles.
            Maskawaih pada dasarnya adalah ahli sejarah dan moralitas. Ia juga seorang penyair, tauhidi mencela maskawaih karena kekikiran dan kemunafikannya. Ia tertarik kepada alkimia bukan demi ilmu, tetapi demi emas dan harta, dan ia sangat mengabdi kepada guru – gurunya. Tetapi, Yaqut menyebutkan bahwa pada tahun- tahun kemudian dia berupaya mengikuti lima belas pokok petunjuk moral.
            Keserdehanaanya dalam melayani nafsu, ketegaran dalam menundukkan didi yang serakah dan kebijakan dalam mengatur dorongan- dorongan yang tak rasional merupakan pokok- pokok petunjuk ini. Dia sendiri berbicara tentang perubahan moral dalam bukunya Tahzib al- Akhlak, yang menunjukkan bahwa ia melaksanakan dengan baik apa yang dituliskannya tentang etika.[2]
            Disiplin ilmunya meliputi kedokteran, sejarah, bahasa, dan filsafat. Akan tetapi, ia lebih populer sebagai seorang filosof akhlak (al- falsafat al-‘amaliyat) ketimbang filosof Ketuhanan (al- falsafat al- nazhariyyat al- illahiyat). Agaknya ini dimotivasi oleh situasi masyarakat yang sangat kacau dimasanya, seperti minuman keras, perzinaan dan lain- lain.

B.       Hasil karya Ibnu Maskawaih 
            Ibnu Maskawaih tidak hanya dikenal sebagai seorang pemikir (filosof), tetapi ia juga seorang penulis yang produktif. Dalam buku  The History of The Muslim Philosophy disebutkan beberapa karya tulisanya, yaitu :
a.      Al- Fauz al- Akbar
b.      Al- Fauz al- Asghar
c.       Tajarib al- Umam (Sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulisnya pada tahun 369 H/ 979 M)
d.      Uns al-Farid (koleksi anekdot, syair, peribahasa, dan kata-kata hikmah)
e.       Tartib al- Sa’adat ( isinya akhlak dan politik)
f.       Al- Mustaufa ( isinya syair- syair pilihan)
g.      Jawiddan Khirad ( koleksi ungkapan bijak)
h.      Al- Jami’
i.        Al- Siyab
j.        On The Simple Drugs ( tentang kedokteran)
k.      On The Compisition of the Bajats ( seni memasak) 
l.         Kitab al- Ashribah  tentang (tentang minuman)
m.    Tahzib al – Akhlak (tentang akhlak)
n.      Risalah fi-  al- Lazzat wa al- Alam fi Jauhar Al- nafs
o.      Ajwibat wa As’ ilat fi al- Nafs wa al-‘ Aql
p.      Risalat fi jawab fi Su’al Ali Muhammad Abu Hayyan al- Shufi fi Haqiqat al-‘ Aql
q.       Al- jawab fi al- Masa’il al- Salas
r.       Thaharat al- Nafs[3]

C.    Pemikiran filsafat Ibnu Maskawaih
1.      Ketuhanan
                    Tuhan  menurut Ibnu Maskawaih adalah zat yang tidak berjisim, Azali, dan Pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi- bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan- Nya. Ia ada tanpa diadakan dan ada- Nya tidak beruntung kepada yang lain. Sementara yang lain membutuhkan- Nya. Tampaknya pemikiran Ibnu Maskawaih ini sama denagn pemikiran Al- Farabi dan Al- Kindi
                     Menurut De Boer, Ibnu Maskawaih menyatakan, Tuhan adalah Zat yang jelas dan zat yang tidak jelas. Dikatakan Zat yang jelas bahwa Ia adalah Yang Hak ( benar). Yang Benar adalah Terang. Dikatakan tidak jelas karena kelemahan akal pikiran kita untuk menangkap- Nya, disebabkan banyak dinding- dinding atau kendala kebendaan yang menutupi- Nya. Pendapat ini bisa diterima karena wujud manusia berbeda dengan wujud Tuhan.
                    Tuhan dapat dikenal dengan propogasi negative dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya, propogasi positif (yu’raf bi al- salb dun al- Ijab). Alasanya propogasi positif akan menyamakan Tuhan dengan alam
                    Segala sesuatu di alam ini ada gerakan. Gerakan tersebut merupakan sifat (natur) bagi alam yang menimbulkan perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula. Ini sebagai bukti tentang adanya Pencipta alam. Pendapatnya ini didasarkan pada pemikiran Aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula.
                    Sebagai filosof yang religious sejati, ibnu Maskawaih menyatakan, alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada karena penciptaan dari bahan yang sudah ada tidak ada artinya. Di sinilah letak persamaan pemikirannya dengan Al- Kindi dan berbeda dari Al- Farabi (Allah menciptakan alam dari materi yang sudah ada)[4]
                    Meskipun begitu, Ibnu Maskawaih tidak banyak member perhatiannya dalam masalah ketuhanan dan metafisika jika dibandingkan filosof islam sebelumnya karena masalah ini tidak diperdebatkan lagi dizamannya.
2.     Emanasi
          Sebagaimana Al- Farabi, Ibnu Maskawaih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara pancaran. Namun, emanasinya berbeda (bertentangan) dengan emanasi Al- Farabi. Menurutnya entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah ‘Aql Fa’al  ( Akal Aktif) akal aktif ini tanpa perantara sesuatu pun. Ia Kadim, Sempurna, dan tak ubah. Dari Akal Aktif ini timbullah jiwa dan dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet (al- falak). Pelimpahan atau pancaran yang terus- menerus dari Allah dapat memelihara tatanan di dalam ala mini. Andaikan Allah menahan pancaran- Nya, maka akan terhenti kemujudan dalam ala mini.
          Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan perbedaan Emanasi antara Ibnu Maskawaih dengan Al- Farabi sebagai berikut:
a.     Bagi Ibnu Maskawaih, Allah menjadikan alam ini secara emanasi (pancaran) dari tiada menjadi ada. Sementara itu, menurut Al- Farabi alam dijadikan Tuhan secara pancaran dari sesuatu atau bahanyang sudah ada menjadi ada.
b.     Bagi Ibnu Maskawaih ciptaan Allah yang pertama ialah Akal Aktif. Sementara itu, bagi Al- Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah Akal Pertama dan Akal Aktif adalah Akal yang Kesepuluh.
3.      Kenabian
                    Teori kenabian Ibn Maskawaih tidak jauh beda dari teori kenabian al- Farabi. Nabi menurut ibn Maskawaih adalah orang yang bekat pengarul akal aktif (akal fa’al ) terhadap daya indrawi dan khayalnya telah memperoleh hakekat- hakekat yang juga telah diperoleh oleh para filosof. Perbedaanya terleta cara menerimanya hakekat- hakekat tersebut. Bagi para filosof hakekat itu diterima dari bawah ke atas dari daya inderawi ke daya khayal lalu ke daya pikir yang dapat berhubungan dengan akal aktif sebagai sumber segala hakekat, sedangkan Nabi cara penerimaanya dimulai dari akal aktif turun langsung kepadanya.
                    Jadi, sumber penerimaaanya bagi keduanya Adalah satu yaitu akal aktif (akal fa’al). Oleh karena hakekat kebenaran itu satu,  baik yang diperoleh Nabi maupun filsof, maka yang paling dapat menerima dan mengakui apa yang dibawa nabi adalah filsof. Hal ini karena Nabi membawa ajaran yang tidak bertentangan dengan akalnya. Manusia perlu kepada Nabi untuk mengetahui hal- hal yang bermanfaat yang dapat membawanya kepada kebahagiaan hidupnya. Akan tetapi, hanya para filosoflah yang dapat mengetahui dengan penalaran akuratnya, kebenaran yang dibawa Nabi.[5]



4.     Jiwa
          Jiwa, menurut Ibnu Maskawaih, adalah jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad. Ia adalah kesatuan yang tidak terbagi- bagi. Ia akan hidup selalu. Ia tidak dapat diraba dengan panca indra karena ia bukan jisim dan bukan bagian dari jisim. Iiwa dapat menangkap keberadaan zatnya dan ia mengetahui ketahuan dan keaktivitasnya. Argument yang dimajukannya ialah jiwa dapat menangkap bentuk sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan, seperti warna hitam dan putih, sedangkan badan tidak seperti itu.[6]
          Jiwa dapat pula menerima gambaran tentang segala hal, yang inderawi maupun yang spiritual, karena jiwa memiliki daya mengetahui dan kemampuan yang lebih luas jangkauannya katimbang daya yang dimiliki materi, bahkan materi tidak akan mampu member kepuasan terhadap jiwa yang immateri, yang oleh karenanya jiwa senantiasa merindukan hal- hal yang bersifat spiritual. Dan amkin menguatkan bukti bahwa jiwa adalah substasi yang bukan materi.
          Secara garis besar, ketika jiwa mengetahui bahwa indera benar atau salah, maka pengetahuannya ini bukan dari indera. Kemudian, jika mengetahui bahwa diirinya memahami ma’qulat­ – Nya sendiri, ia mengetahuinya bukan dari sumber lain lagi, dan seterusnya tanpa henti. Dengan begitu jiwa itu tahu, karena ia memang mengetahuinya dari esensi dan substansinya sendiri, yaitu akal. Dan itu berarti, bahwa ia tidak pernah membutuhkan sesuatu yang lain untuk mengetahui sesuatu, kecuali dirinya sendiri. Untuk itu, bisa disimpulkan bahwa akal, yang berpikir (ma’kul) itu sekali tiga uang, dan tiada sesuatu yang lain di dalamnya.[7]
          Di sisi lain, hal yang ingin ditegaskan oleh maskawaih adalah bahwa substansi jiwa manusia, yang dipandangnya sebagai esesnsi yang lebih mulia dari keseluruhan benda di alam ini. Dengan kata lain, ibn Maskawaih hendak mengatakan bahwa substansi jiwa manusia lebih tinggi dan lebih mulia ketimbang benda- benda materi, karena kemampuanya mengetahui hal- hal yang abstrak sekalipun, bahkan sumber pertimbangan tingkah laku, yang sealalu mengarah kepada kebaikan.
          Lebih jauh lagi, Maskawaih menjelaskan bahwa jiwa manusia mempunyai tiga fakultas: yang pertama, fakultas yang berkaitan dengan proses berpikir (al fikr), melakukan observasi (al nazhar), dan memberikan pertimbangan (al tamyiz) atas segala realitas. Kedua, fakultas yang terepresentasikan dalam amarah (al ghadab) dan keberanian (al iqdam) dalam menghadapi ancaman atau bahaya, atau dalam hasrat untuk menjadi berkuasa, mengunggulakan diri, atau mencapai penghargaan lainya. Dan ketiga, fakultas yang menjadikan seesorang memiliki dorongan keinginan, hawa nafsu (al syahwat) terhadap makanan, minuman, senggama serta kenikmatan indrawi lainnya.[8]
5.     Akhlak
               Ibn Maskawaih dalam kontruksi pemikiran filsafat etikanya sangat khas, yang melandasi konsepnya tentang bagaimana mendidik  manusia. bertolak dari pandangannya, bahwa watak dan karakter manusia dapat berubah karena pengaruh- pengaruh dan factor- factor eksternal, misalnya lingkungan yang mengitarinya atau pola- pola pendidikan yang diperolehnya.  
               Pemikiran Ibnu maskawaih tentang akhlak terdapat seluruhnnya dalam kitab Tahdzibu’l Akhlaq. Dalam masalah ini, ia termasuk seorang pemikir islam yang terkenal. Dalam setiap pembahasan akhlaq dalam islam, pemikirannya selalu diperhatikan orang. Hal ini karena pengalaman hidupnya sendiri, yang pada waktu usia muda sering dihabiskan pada perbuatan yang sia- sia, telah menjadi dorongan kuat baginya untuk menulis kitab tentang akhlaq sebagai tuntunan bagi generasi sesudahnya. Kitab tersebut uraian suatu mazhab dalam akhlaq yang bahan- bahanya ada yang berasal dari konsep- konsep akhlaq dari plato dan Aristoteles yang diramu dengan ajaran dan hukum islam serata diperkaya dengan pengalamn hidup pribadinya dan situasi zamanya
               Dalam konsepsi Ibnu maskawaih akhlaq adalah “suatu sikap mental (Halun li’n-Nafs) yang mendorongnya untuk berbuat, tanpa pikir dan pertimbangan”. Keadaan atau sikap jiwa ini terbagi menjadi dua : ada yang berasal dari watak (temperamen) dan ada yang berasal dari kebiasaan dan latihan. Dengan kata lain, tingkah laku manusia mengandung dua unsur : unsur watak naluri dan unsur usaha lewat kebiasaan dan latihan. Ibnu maskawaih menolak pendapat sebagian pemikir yunani yang mengatakan bahwa akhlaq itu tidak dapat berubah karena ia berasal dari watak atau pembawaan. Baginya akhlaq itu dapat selalu berubah dengan kebiasaan dan latihan serta pelajaran yang baik, karena kebayakan anak yang hidup dan dididik dengan cara tertentu dalam masyarakat ternyata itu berbeda secara menyolok dalam menerima nilai- nilai akhlaq yang luhur.
               Jika di titik sudut dari sudut akhlaq mulia manusia sangat berbeda; ada yang lebih dekat kepada hewan dan adapula yang lebih dekat kepada malaikat. Diantara dua tingkat yang bertolak belakang ini terdapat sejumlah besar tingkat lain dimana semua orang dapat dikelompokkan. Jadi, manusia dapat diperbaiki akhlaqnya dengan menghilangkan darinya sifat- sifat tercela.[9] Bagi Ibnu Maskawaih akhlaq yang tercela bisa berubah menjadi akhlaq yang terpuji dengan jalan pendidika (Tarbiyah al- Akhlaq) dan latihan- latihan. Pemikiran seperti ini jelas sejalan denagn ajaran islam karena kandungan ajaran islam secara eksplisit telah mengisyaratkan kearah ini dan pada hakekatnya syari’at agama bertujuan untuk mengokohkan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlaq manusia.[10]
                Dalam buku Tahzib Al- akhlaq Ibnu Maskawaih juga memaparkan kebahagiaan. Menurutnya, kebahgiaan meliputi jasmani dan rohani. Pendapatnya ini merupakan gabungan antara pendapat Plato dan Aristoteles. Menurut Plato kebahagiaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan rohani. Hal ini baru bisa diperoleh manusia apabila rohaninya telah berpisah dari jasadnya. Dengan redaksi lain, selama rohaninya masih terikat kepada jasadnya, yang selalu menghalanginya mencari hikmah, kebahagiaan dimaksud tidak akan dicapai. Sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan dapat dicapai dalam kehidupan di dunia ini, namun kebahagiaan tersebut berbeda diantara manusia, seperti orang miskin kebahagiaannya dalah kekayaan, orang sakit pada kesehatan, dan lainnya.
6.    Teori Evolusi
               Jauh sebelum C. Darwin mengemukakan teori evolusi, Ibnu Maskawaih telah berpendapat Bahwa segala sesuatu yang wujud ini tumbuh dan berkembang melalui beberapa phase yang keseluruhannya merupakan mata rantai kehidupan. Bahwa segala pada phase pertama merupakan suatu yang sederhana, kemudian senantiasa ber-evolusi dan berkembang sehingga mencapai derajat yang lebih tinggi. Tumbuh- tumbuhan pada mulanya, dalam tingkatan vegetative (nabat) kemudian ber-evolusi dan berkembang meningkat sehingga mendekati derajat manusia. Manusia terus berkenbang meningkat bukan saja dari segi physic, tetapi berkembang pula kecerdasannya, cara berpikirnya bertambah maju sehingga menjadi bijaksana bahkan mendekati derajat malaikat/ para Nabi.
               Dengan ini Ibnu Maskawaih menetapkan prinsip adanya kebenaran Nubuat (kenabian) dan adanya kebenaran turunya wahyu Allah hanya saja untuk mencapai tingkatan ini ada dua jalan :
1)      Perenungan tentang hakekat segala sesuatu yang wujud sehingga mempertajam pandangan, sehingga akhirnya dapat mengena soal- soal ketuhanan. Tingkatan ini dapat dicapai oleh para filosof.
2)      Manusia mungkin sekali tanpa perenungan akal pikiran, tetapi mendapatkan karunia limpahan langsung dari tuhan berupa kebenaran (wahyu) tanpa melalui latihan akal pikiran. Tingkatan ini hanya dapat dicapai oleh orang- orang terpilih yaitu para Nabi.
Teori evolusi rohani ini berpijak dari dasar filsafatnya bahwa manusia menurut fitranya mempunyai kemampuan dan kemauan untuk mencapai kesempurnaan.[11]
              

IV.            KESIMPULAN
Ibnu Maskawaih adalah seorang filosof Islam yang dilahirkan di kota Reyy pada tahun 330 H. dan meninggal di Ashfahan pada tahun 421 H /1030 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’kub ibn Maskawaih.salah satu hasil karya besar beliau adalah kitab Tahzib Al- Akhlaq yang berisi tentang akhlaq, maka dari itu Ibnu Maskawaih lebih popular sebagai seorang filosof akhlak ketimbang filosof ketuhanan.
Pemikiran filsafatnya meliputi tentang ketuhanan dengan pemikiran terbatasnya, karena pendapat beliau cenderung sama dengan Al-Kindi dan Al- farabi. Juga ada tentang emanasi, kenabian ,jiwa, akhlaq (etika) dan teori tentang evolusi.

   V.            PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami susun, semoga dapat memberikan manfaat untuk pembaca dan pemakalah khususnya. Kmi menyadari pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunanya. Sehingga kami mohon kritik dan saran pembaca yang dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi pemakalah.



[1] Ahmad Daudy,Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 56
[2] M.M. Syarif, Para Filosof Islam, terj.History of Muslim Philosophy, (Bandung: Mizan,1996), cet.VIII,hlm.85
[3] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya, ( Jakarta: PT. Raja Grofindo Persada, 2004), hlm.128-129
[4] Ibid, hlm.130
[5] Yusuf Suyono, Bersama Ibn Rusyd menengahi Filsafat dan Ortodoks,(Semarang: Walisongo Press,2008),hlm.51
[6] Sirajuddin Zar, Opcit, hlm. 133
[7] Helmi Hidayat, Menuju kesempurnaan Akhlak, terj. Tahzib Al Akhlaq,(Bandung: Mizan,1994),hlm.39
[8] Zainuddin,dkk, Pendidikan Islam,(Malang : UIN Malang Press, 2009),hlm. 147-148
[9] Ahmad Daudy,Opcit, hlm.60-61
[10] Sirajjudin Zar,Opcit,hlm. 135
[11] Muslih ishak, Tokoh- tokoh Filsafat Islam dari barat (Spanyol),(Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1980)hlm. 23-24

3 komentar: