Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 23 April 2013


PERKEMBANGAN PAHAM SALAFI WAHABI DI INDONESIA

Resume
Disusun Guna Memenuhi Tugas
 Mid Semester
Mata Kuliah : Sejarah Islam Indonesia
Dosen Pengampu:Maftukhah, M.SI



 








Disusun Oleh:
Lathifatus Syifa                                  103111121




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA  ISLAM  NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2012


PERKEMBANGAN PAHAM SALAFI WAHABI DI INDONESIA
Salah satu gerakan Islam yang berkembang pesat di Indonesia adalah gerakan salafi.Gerakan ini sempat menarik publik setelah orde baru runtuh.Kata salafi menurut bahasa artinya “orang- orang yang hidup di zaman kita”. Adapun secara istilah as- Salaf  dapat dimaknai sebagai generasi pertama sepeninggal Rasulullah, yakni para sahabat Rasulullah Saw, kemudian para tabi’in dan Tabi’at- tabi’in. Seorang salafi berarti seseorang yang mengikuti jalan para sahabat Nabi Saw.,tabi’in dan Tabi’at- tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka. Nama Salafi secara khusus mulai populer diindonesia pada tahun 1995 bersamaan dengan terbitnya majalah Salafi yang dibidani oleh Ja’far Umar Thalib dan kawan- kawan.[1]Namun demikian, saat ini penggunaan istilah salafi tercemari, kata salafi- karena propaganda dan klaim yang begitu gencar – saat ini secara khusus mengarahkan kepada aliran islam tertentu. Pada hakikatnya, mereka bukanlah salafi atau para pengikut salaf, kelompok ini mengaku- ngaku sebagai kelompok salaf.
Mereka lebih tepat disebut aliran salafi wahabi.Wahabismesendiri  digambarkan sebagai aliran pemikiran, mazhab, dan gerakan paling tidak toleran dalam islam, yang berusaha dengan cara apapun- termasuk kekerasan untuk pengembangan dan penerapan ‘islam murni’, yang mereka pandang sebagai islam yang paling benar. Ini bisa dilihat dari pemikiran dan kiprah Muhammad Ibnu Abdul Wahab (pendiri aliran Wahabiyyah) yang sejak abad ke- 18 menguasai lanskap keagamaan di Arabia, setelah mereka menduduki Makkah dan Madinah dengan kekerasan. Ia sangat menekankan pentingnya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada islam yang ‘murni’ yang bersih dari bid’ah, khufarat, dan takhayul ; semua ini harus dibasmi dengan cara apapun , termasuk dengan kekerasan.[2]
 Muhammad bin abdul Wahab itu,orang yang mendirikan paham salafi wahabi yang gemar menilai kufur dan sesat secara ekstrim kepada orang yang beda ajaran dan pemikirannya. Dalam risalah pertamanya, yaitu dalam as-Syakhsiyyah yang tertulis dalam Majmu’at karangan Syaikh Muhammad Abdul wahab disebarkan lewat universitas Muhammad Su’ud al- Islamiyya, mengatakan :”sudah tidak samar lagi bagi kalian semuanya, bahwa telah sampai kepadaku Risalah Sulaiman bin Sahim. Allah mengetahui bahwa laki- laki itu telah membuat- buat perkataan yang dinisbatkan (disandarkan)kepadaku tapi tidak pernah menguvcapkannya dan kebanyakan perkataan tersebut bukan berasal dari diriku”, di antaranya,:
1.      Aku mengatakan bathil terhadap kitab- kitab mazhab empat
2.      Aku mengatakan manusia (ulama- ulama) mulai tahun 600 tidak ada apa- apanya
3.      Aku keluar dari Taqlid
4.      Aku mengatakan ikhtilaf umat adalah bencana
5.      Aku mengkufurkan orang- orang yang bertawassul dengan orang- orang shalih
6.      Aku mengharamkan ziarah makam Rasulullah Saw
7.      Aku mengkufurkan orang yang sumpah dengan nama selain Allah, dan lain sebagainya.[3]
Salah Satu Contoh akidah Kaum Wahabi Soal adalah, permintaan Syahadat.Kaum wahabi mengganggap permintaan syafaat yang bagaimanapun syirik dan ibadah. Mereka mengira bahwa Al-Quran tidak mencap para penyembah berhala sebagai kaum musyrikin melainkan karena mereka meminta syafaat dari berhala-barhala, seperti firman Allah:mereka menyembah selain Allah, apa yan tidak mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata,’Mereka itu pemberi syafaat kepada kami di sisi allah’” (Q.S 10:18)
Atas dasar ini, kata mereka, tidak diperbolehkan meminta syafaat walaupun dari orang- orang yang memang diberi hak atau izin untuk bersyafa’at.[4]Beberapa ulama menilai Muhammad bin Abdul wahab adalah orang- orang yang sesat. Vonis ini sesuai dengan yang dimunculkan oleh sayyid Ahmad Zaini Dahlan as- Samarani dengan menyebutnya sebagai “al-khabits”,penilaian serupa juga muncul dari saudaranya sendiri yaitu Syaikh Sualiman Bin Abdul Wahab.[5]Di kawasan Asia Tenggara sendiri, Wahabisme tidak pernah popular.Perkenalan Islam Indonesia dengan gerakan Wahabi bermula dari Haji Miskin , Haji Abdurrahman dan Haji Muhammad Arif saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1083 sekitar  awal abad- 19. Terpesona dengan gerakan Wahabbi, sekembalinya ke Indonesia, Haji Miskin berusaha melakukan gerakan pemurnian sebagaimana Wahhabi, yang juga didukung oleh dua Haji lainnya. Orang- orang inilah inilah yang mengenalkan Islam model Saudi di Indonesia. Pemikiran dan gerakan mereka mirip dengan Wahabi, yaitu mengkafirkan tarekat Sattariyyah dan tasawuf karena terlalu banyak Bid’ah dan Khufarat di dalamnya.
Menurut mereka, apa yang terjadi di masyarakat Minangkabau pada saat itu sebenarnya telah menyimpang dari ajaran agama, oleh karena itu perlu diluruskan. Namun di pihak lain, khususnya golongan adat ada kecenderungan untuk tidak mau diganggu kelestarian adatnya, padahal banyak adat yang mereka laksanakan itu tidak sesuai ajaran Islam, bahkan mereka sangat peka dan mengadakan perlawanan terhadap pembaharuan yang dilakukan oleh tiga orang haji itu. Gerakan Haji ini selanjutnya dikenal dengan gerakan Padri. Pertentangan kaum Padri dengan kaum adat  pada akhirnya memberi peluang kekuasaan asing untuk masuk di daerah Minangkabau, dengan demikian para Haji dengan gerakan Padrinya akhirnya menghadapi dua lawan, di satu pihak untuk memberantas Adat untuk memurnikan kembali ajaran Islam dan di pihak lain menghadapi perjuangan kemerdekaan melawan Belanda dalam perjuangan politik.[6]
Pada awal revolusi kemerdekaan di Indonesia, sebenarnya banyak sekali ormas Islam di Indonesia memiliki keyakinan seperti kaum Padri. Memiliki kesamaan dalam hal pandangannya terhadap tradisi yang harus dihilangkan dari praktek keagamaan umat islam. Relasi Wahhabi dengan kelompok- kelompok islam garis keras di Indonesia memang tidak bisa sepenuhnya ditunjukkan secara organisatoris structural. Umumnya kelompok atau ormas di Indonesia tidak mau disebut Wahhabi.Relasi ditunjukkan adanya kontak- kontak langsung dengan tokoh- yokoh Islam transnasional.Selain itu, ada juga relasi berdasarkan kesamaan orientasi, ideology dan tujuan gerakan.
Pendapat yang berkembang hingga kini mengakui adanya pengaruh Wahabbi dalam kaum padri.Ada persamaan di antara kedua gerakan tersebut, sekalipun juga ditermukan perbedaan. Beberapa aspek yang sama adalah sebagai berikut. Pertama, metode yang digunakan adalah kekerasan; kedua, pakaian yang digunakan oleh kum Padri merupakan Arab Style Clothing; ketiga, persamaan pada aspek doktrin dan nilai- nilai yang diperjuangkan, sikap dan cara berdakwah (perbuatan ). Sedangakan beberapa aspek yang berbeda antara gerakan Wahabi dan Padri adalah sebagai berikut : pertama, masalah yang dihadapi Wahabi lebih mengarah pada persoalan Tauhid (khufarat dan bid’ah), sedangkan  Padri lebih mengacu pada kerusakan  moral seperti minumman minuman keras dan sabung ayam; kedua, Wahabi menentang ziarah kubur, sedangkan Padri tidak; ketiga, Wahabi bekerja sama dengan pihak yang berkuasa, sedangkan Padri bergabung dengan kaum agama untuk menentang adat.
Secara singkat, dalam konteks Indonesia, menurut Yudian Wahyudi, gerakan dan pengaruh Wahabi dapat dibagi menjadi beberapa gelombang.Pertama, Perang Padri di Sumatera Barat (1821-1837), sebagaimana penjelasan diatas.Kedua , pemberontakan di banten, (1888) sebagai pengaruh Pan- Islamisme, yang merupakan internasionalisasi formal gerakan Wahhabi di tangan Jamaluddin Al- Afghani dan Muhammad abduh melalui majalah al- Urwah al- Wustqa. Ketiga, berdirinya Sarekat Islam (1905) sebagai wujud nasionalisasi Pan-Islam, yang kemudian didukung oleh Muhammadiyyah (1912), Al- Irsyad (1914) dan persatuan Islam (1923), khususnya dalam aspek akidah dan fiqh. Keempat, gerakan darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (1949-1962).[7]
Pada era reformasi, control ketat terhadap pertumbuhan dan perkembangan ormas Islam tidak lagi ada. Atas nama hak asasi, setiap orang bebas membentuk perkumpulan atau jama’ah dengan tujuan apa saja. Kebebasan ini juga dirasakan manfaatnya oleh umat islam. Yanpa komando, kelompok pengajian,usroh, halaqoh dan sejenisnya tumbuh bak jamur di musim hujan. Sebagian gerakan dakwah itu tidak mau dikenal public.Gerakannya hidup, tumbuh dan berkembang.Perekrutan jama’ah dilakukan secara massif tetapi tertutup.Cirinya eklusif, terkesan taat beragama dan berkelompok.Secara rutin melakukan pertemuan, jama’ahnya di baiat dan harus melakukan tugas dakwah dalam arti yang sesungguhnya dan berkelana dari satu masjid ke masjid yang lainnya.Akan tetapi, sebagian lain, mengenalkan diri kepada public. Dibentuk organisasi modern seperti organisasi Kemahasiswaan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),Jama’ah Islamiyyah dan lain- lain.
Terlepas dari itu, setelah dilakukan penelitian terhadap gerakan wahabi di Indonesia kekinian, tentang perkembangan gerakan dakwah Salafi- wahabi. Katakanlah di Semarang  samasepertiyang ada di Yogyakarta, dan Bandung.Walaupun gerakan dakwah belum seperti yang terjadi di dua kota tersebut. Eksistensi dan intensifikasi gerakannya dipengaruhi beberapa factor, antara lain : a). perkembangan lembaga- lembaga dakwah terutama di lingkungan kampus- kampus umum, b). makin banyaknya alumni- alumni LIPIA dan timur tengah yang mulai kembali ke kota asal, c). dukungan financial lembaga- lembaga donor untuk perkembangan dakwah ini. 
Seperti telah dijeskan diatas, DDII telah mensposori proyek pembangunan masjid dan pusat  kajian Islam (Islamic Center ) di sekitar kampus Universitas Diponegoro Semarang adalah salah satunya. Proyek ini dikenal dengan nama Bina Masjid Kampus, yang mengenalkan mahasiswa kepada pemikiran dan ideology islam. Bersamaan dengan itu, mahasiswa kampus sekuler dengan meningkatkan ghirah keislamannya. Kajian- kajian keislaman mulai marak, kesadaran untuk hidup islami meningkat, dan lembaga dakwah kampus bersama Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI ) atau forum- forum kajian keislaman mulai banyak melakukan dan memfasilitasi kegiatan keagamaan di kampus- kampus umum.
Di tekankan sekali lagi, dalam bidang  organisasi, gerakan dakwah Islam wahabi contohnya di  Semarang tidaklah berupa organisasi formal atau (organisasi) structural sebagai mana lazimnya organisasi sosial- keagamaan  yang bergelut di masyarakat. Oleh karena tanpa organisasi, di dalam gerakan dakwah salafi  tidak dijumpai pemimpin formal atau organisasi. Sekalipun demikian, tetap ditemukan seseorang yang dituakan atau yang dihormati yang disebut ulama atau sering disebut pula ustadz.
 Sekalipun tanpa organisasi formal, kegiatan halaqah, darurah  atau pengajian tertata secara rapi. Informasi tentang kegiatan disampai lewat selebaran- selebaran yang dipasang di masjid- masjid tertentu, lewat jejaring social, maupun pesan pendek antar aktivis. Dengan kata lain, meski tanpa organisasi dakwah salafi dapat berjalan dengan baik atau disebut organization without organization (organisasi tanpa organisasi).  Ciri- ciri dakwah tersebut merupakan ciri- ciri primer yang menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan diatas adalah dakwahnya kaum salafi wahabi  dari kitab yang dikaji, cara berdakwah yang dijalani, lembaga donor yang membantu kegiatan hingga bagaimana kaum perempuan harus memakai cadar saat beraktifitas.
Disinggung diatas tentang lembaga donor yang membantu menyebarluaskan gerakan islam salafi Wahabi. Pada tahun 1993, berdiri yayasan dan masjid Nurus Sunnah yang biasa digunakan untuk aktifitas pengikut salafi. Kini yayasan tersebut memiliki banyak amal usaha, seperti sekolahan dari SD hingga SMP, memiliki pesantren dan juga radio Nurussunnah (107,7 FM). Lembaga yang dipimpin oleh Faqih Edi Susilo, seorang mantan aktivis NII mendapatkan bantuan dari Timur Tengah melalui Yayasan Al- Sofwah Jakarta yang digunakan untukmembangun masjid Nurus Sunnah di atas lahan milik Amir Ali Bawazir, seorang pengusaha keturunan arab di Semarang.[8]

DAFTAR PUSTAKA
Asmuni, Yusran Pengantar Studi Pemikiran Dan Gerakan Pembaharuan Islam Di Dunia Islam.Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1995
Idhahram, Syaikh. Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.2011
Idahram, Syaikh.Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Yogyakarta: IKAPI. 2011
Muhammad, Nur Hidayat.Meluruskan Vonis Wahabi. Kediri :Nasyrul Ilmi,.2012
Muhammad, Nur Hidayat. Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah Menolak Faham Salafi Wahabi, Hizbut Tahrir Dan LDII. Kediri :Nasyrul Ilmi. 2012
Rokhmad,Abu.Ideology&Gerakan Dakwah Salafi Wahabi.Semarang; IAIN WS. 2010
Subhani,Syaikh Ja’far Studi Kritis Faham Wahabi Tauhid Dan Syirik Terj. Muhammad Al-Baqir, s(Bandung;IKAPI, 1995)



                                     


[1]Syaikh Idahram, Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi,(Yogyakarta:IKAPI, 2011), hlm.39
[2] Syaikh Idhahram,Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011),Hlm.19-20
[3] Nur Hidayat Muhammad, Meluruskan Vonis Wahabi, (Kediri :Nasyrul Ilmi, 2012), hlm. 10-11
[4] Syaikh Ja’far Subhani, Studi Kritis Faham Wahabi Tauhid Dan Syirik Terj. Muhammad Al-Baqir, (Bandung;IKAPI, 1995),Hlm.174-175
[5]Nur Hidayat Muhammad, Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah Menolak Faham Salafi Wahabi, Hizbut Tahrir Dan LDII, (Kediri :Nasyrul Ilmi, 2012), hlm. 23
[6] M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran Dan Gerakan Pembaharuan Islam Di Dunia Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), Hlm. 98
[7]Abu Rokhmad, Ideology &Gerakan Dakwah Salafi Wahabi,(Semarang:IAIN WS, 2010) hlm. 67-68
[8]Abu Rohmad, Ideology &Gerakan Dakwah Salafi Wahabi,hlm. 103-110

Tidak ada komentar:

Posting Komentar