Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 14 Mei 2013

MANAJEMEN WAKTU VS BUDAYA NGARET 


Permasalahan pendidikan lagi-lagi menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indonesia, terutama para pakar Pendidikan. Dari mulai buruknya kualitas pendidikan hingga tidak meratanya pemberian pendidikan terhadap anak bangsa. Seluruh komponen masyarakat seharusnya tidak saling menyalahkan dan melakukan refleksi terhadap sikap atau sifat inter personal masing- masing. Karena tidak ada guna hanya menjustice pemerintah dalam hal ini sebagai suatu lembaga yang bertujuan mencerdaskan anak bangsa.  
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Suatu pendidikan dikatakan sukses apabila berhasil mencapai tujuan. Tentu didukung dengan adanya suatu bentuk kesungguhan dari komponen pendidikan. Yaitu Dosen dan Mahasiswa (Tingkat Perguruan Tinggi) Guru dan Peserta didik (Sekolah). Selain sistem yang bagus harus dibarengi dengan kemauan untuk berkembang. Persoalan yang dianggap sepele pun akan berakibat besar manakala tidak diselesaikan secara tepat . Salah satunya adalah tentang kedisiplinan. Kurangnya kesadaran akan pentingnya  manajemen waktu yang bijak membuat para mahasiswa tidak merasa rugi apabila setiap perkuliahan datang terlambat. 
Kata yang sering keluar dari mulut mereka adalah “yang penting telat daripada tidak berangkat”. Tidak hanya mahasiswa, dosen pun sering terlihat terlambat hadir dalam ruang perkuliahan. Begitu kompaknya mereka dalam hal ngaret, ini menjadikan mainsade atau pola pikir yang tidak baik, karena menurut mereka keterlambatan adalah suatu kebiasaan yang lumrah di kampus. Dalam acara diskusi ataupun Seminar pun tidak luput dari aksi keterlambatan mereka. Karena memang budaya jam ngaret yang sudah mengakar, akhirnya menjadikan hal yang biasa terjadi dalam keseharian.
Akibatnya, kurang optimal hasil yang didapatkan dalam melakukan suatu pekerjaan. Awalnya ngaret adalah masalah kecil. Akan tetapi, lambat laun akan terasa bahwa budaya molor merugikan bagi diri sendiri bahkan orang lain terkena imbasnya. Dalam Alqur’an  Surat Al-Ashr (103): 1-3, menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Waktu  adalah hal paling berharga dan merupakan nikmat Allah yang amat besar dan tidak akan terulang  dalam waktu yang sama.

Manajemen Waktu
Banyak cara yang dapat dilakukan agar dapat mengatur waktu dengan baik, akan terlebih dahulu, harus diawali dengan kesadaran diri sendiri bahwa waktu itu berharga, kemauan untuk berubah dimulai dengan hal- hal kecil seperti bangun tidur dan sholat tepat waktu, kuliah sebelum jam masuk. Merencanakan dengan matang kegiatan atau pekerjaan yang akan dilakukan. Apabila secara bertahap dan continue, budaya jam ngaret pun akna hilang dengan sendirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar